PELAJARAN CINTA, PERSAHABATAN DAN KEHIDUPAN DARI KARTINI
Hikmatullah*
Raden
Ajeng Kartini adalah salah satu tokoh pahlawan nasional yang memperjuangkan
kemerdekaan kaum wanita (emansipasi) khususnya, serta menginsipirasi perjuangan
bangsa Indonesia pada umumnya. Perjuangan Kartini selama hidupnya adalah untuk
meningkatkan persamaan derajat Antara kaum laki-laki dan perempuan. Kartini pun
sangat menolak adanya sistem patriarki yaitu memposisikan wanita sebagai orang
nomor dua dalam sistem sosial kehidupan.
Perlu
diketahui bahwa dalam paradigma patriarki, wanita dianggap sebagai manusia
nomor dua, harus dirumah saja, tak boleh berpendidikan tinggi, berkarir dan
harus mengabdi saja pada suami. Sedangkan laki-laki adalah kaum yang unggul,
boleh jadi apa saja, melakukan apa saja dan pulang jam berapa saja. Saya kurang sepakat dengan cara berpikir seperti itu.
Cara
berpikir patriarki dipengaruhi oleh kebudayaan yang terlalu menganggap tinggi
kaum laki-laki, padahal manusia diciptakan sama dan setara. Bahkan derajat
seorang ibu (wanita) mempunyai keutamaan yang tidak diragukan lagi dalam ide
Nabi Saw.
Namun
pada kenyataannya, sebagian besar wanita (remaja) masih terjerat dalam cara
berpikir seperti diatas dan sangat terhegemoni oleh kaum laki-laki. Hal
tersebut bisa dilihat dari sikap dan tingkah laku (wanita) yang selalu diatur
dan diawasi padahal itu hanya sebatas pacaran.
Harus
sama-sama kita sadari bahwa kebudayaan, cara pandang dan aturan seperti itu
sengaja di buat dan di setting
sedemikian rupa hanya untuk sebuah keuntungan dan kepentingan. Inilah yang
disebut dengan penjajahan pikiran.
Dan
hal seperti inilah yang kemudian dengan sadar diperjuangkan oleh Kartini
sepanjang hidupnya. Meskipun dalam sikap dan tindakan kurang tegas karena adanya
ikatan pernikahan yang dipingit.
Jadi
pilihlah jodohmu secara mandiri, wanita pilihlah laki-laki yang memerdekakan.
Hindari laki-laki yang membuat kalian seperti narapida dan objek yang diatur.
Jangan sampai terjebak pada cinta yang tidak mendewasakan. Cinta itu bukan
penganggapan seseorang menjadi milik, bukan tentang siapa mendapatkan apa atau
apa dimiliki siapa. Tapi cinta tentang penawaran untuk sama-sama saling
memerdekakan dan mengajak pada kemajuan dan kebahagiaan.
Begitu
pula dengan persahabatan. Ikatan persahabatan yang ditawarkan haruslah abadi,
bukan sekedar ketawa “haha-hihi” sepanjang malam ditempat karaoke atau hiburan.
Dalam persahabatan tidak ada hierarki yang terbangun, apapun status sosialnya
diantara persahabatan harus sama dan sederajat, sama-sama terlahir dari Rahim
leluhur yang satu dan kita semua terhormat sebagai seorang manusia. Maka disaat
yang lain menghabiskan waktunya dengan kesenangan yang menipu, kita kuras waktu
kita untuk penderitaan yang mulia.
Hidup
kita pada akhirnya adalah hidup kita, disaat orang lain runtuh dan tergeletak
dalam putus asa, kita memilih untuk tetap berdiri dan lanjutkan perjuangan.
Orang boleh saja menyerah disaat sulit, tapi yang mereka dapatkan hanya
pelajaran tentang kegagalan, mereka tidak akan pernah tahu arti dari
kesuksesan. Luka dalam mengejar kesuksesan jauh lebih romantis dari pada tawa
dalam kepura-puraan.
Hidup
memang sengaja tercipta penuh tantangan dan rintangan, tapi itu bukanlah alasan
untuk lari dari kenyataan. Semua itu menjadi madrasah agar kita terdidik
menjadi manusia yang kuat, merdeka, bijaksana dan tahu kapan waktunya tertawa
maupun menangis. Sehancur-hancurnya semangat dan keberanian, mari kita pungut,
genggam dan tata kembali. Itulah sebuah proses. Tinggalkan perkataan-perkataan
yang menghina, jauhi orang-orang yang pesisimis, sebab peradaban hari ini
dibangun oleh mereka orang-orang yang percaya akan perubahan.
Ingat,
manusia berdarah merah adalah symbol keberanian. Jadi jangan biarkan dirimu
terbawa dalam arus sungai perbudakan, tereksploitasi, terpinggirkan, bahkan
termarjinalkan. Kita (manusia) dikirim Tuhan ke bumi ini sebagai panglima,
pemimpin dan bukan prajurit, maka jangan pernah mempermalukan nama Tuhan dengan
menyerah kepada keadaan.
Terakhir,
mengutip dari perkataan Dr. Ali Syariati, “Islam Merevolusi Kedudukan Wanita.
Bahwa wanita adalah sebagai rumah cinta, air mata dan kebangkitan.”
Selamat
Hari Kartini
Door Duisternis Tot
Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang)
*Manusia Tanpa Bakat Istimewa

Komentar
Posting Komentar