Jangan Menangis Bangsaku
Part 1


Langit menghitam ditanah perantauan, Kilat berdentuman memecah langit Jakarta. Kilauan cahaya sesekali menggores sisian gelap malam.
“Hujan malam ini, jelmaan kesedihan,” ucap lirih seorang pemuda kepada kawan satu kosan yang terlihat murung memandang ribuan tetes air hujan yang jatuh.
Kedua pemuda yang berbeda latar belakang itu sama-sama datang mengadu nasib ke Ibukota. Daerah metropolitan yang penuh dengan kerlap-kerlip gemerlapan, daerah megah dengan beragam dinamika dan strata sosial yang terbangun di dalamnya.
“Apa yang kamu pikirkan, Andi?” tanya pemuda itu sambil duduk bersender di depan kamar kosan kawannya.
“Saya sedang memikirkan orang-orang di kampung, Tris”, jawab Andi.
“Kenapa kamu memikirkan mereka?”, lanjut pemuda bernama Tris itu.
Andi menghela nafas dan kembali terdiam dengan beragam dinamika pikiran yang berkecamuk di kepalanya.
“Apa kamu rindu dengan kampung mu, Andi?”, tanya tris.
“Yah, begitulah..”, jawab Andi lirih
Kedua pemuda itupun termenung memandang baris gerimis yang tak mau reda, dan terjatuh seakan melukis tangis.
“Kau tahu Tris, sewaktu kecil dulu saya sering sekali mandi hujan.” Andi mulai bercerita. “Bermain diatas kubangan air di tanah yang lapang, berlarian kesana kemari dengan sejuta tawa bersama teman-teman sepermainan.” Andi tersenyum membayangkan masa kecilnya dulu.
“Entah kenapa hujan selalu menyenangkan waktu dulu.” Ucap Andi sambil memandang Tris yang baru selesai menyeduh kopi dari dispenser pojok kamar itu.
“Yah, kamu benar kawan, hujan selalu menyenangkan waktu dulu.” Timpal Tris sambil menyeruput kopi hangat buatannya.
“Dikampung ku, hujan menjadi sebuah anugerah,” lanjut Tris. “Masyarakat bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Ada yang menanam jagung dan padi, ada pula yang menanam kedelai dan sayur-sayuran.”
“Hujan menjadi anugerah bagi mereka yang membutuhkan, juga menjadi kutukan bagi mereka yang dirugikan.” potong Andi
“Maksud kamu?” tanya Tris.
“Bagi kita masyarakat desa hujan menjadi sebuah anugerah, karena kita bisa menciptakan ekonomi prodiktif dikalangan masyarakat kita. Tapi lihatlah kawan, disini hujan dianggap sebagai bencana, menyebabkan banjir dan genangan air dimana-mana.” Jawab Andi sambil menyeruput kopi buatan Tris.
“Coba perhatikan bagaimana jalan raya yang setiap hari padat dengan kendaraan, begitu sepi dan lega saat hujan turun. Coba dengar bagaimana mereka mengumpat tentang hujan, mengganggu berangkat dan pulangnya kerja, bahkan hujan menjadi pemicu tersendatnya ekonomi disini.” Lanjut Andi.
“Kau tahu, hujan bukan saja berisi air mata tapi juga amarah yang membahana.” Tutup Andi sambil menjulurkan tangannya menyentuh tetesan hujan yang turun.
Kedua pribumi malang itu pun larut bersama gerimis yang tak mau reda.

*V*

Dikamarnya Tris masih memikirkan maksud dari perkataan Andi tadi,
“Kenapa dengan anak itu? Apa yang sedang dia rasakan?” Pertanyaan itu lahir dalam benak Tris.
“Apa yang sebenarnya dia pikirkan?” Tris kembali dihadapkan dengan pertanyaan yang bahkan malaikat pun tidak tahu jawabannya.

Andi dikamaranya hanya duduk termenung di atas kasur. Kemudian dia mengambil buku dan menuliskan sesuatu.

“Dengan bangga kata mereka ucap. Bahasanya mengikrarkan kecintaan terhadap rakyat. Atas nama kesejahteraan, perekonomian, pembangunan, pengangguran dan lapangan pekerjaan. Kebenaran dan kemanusiaan hanya ada dalam tong sampah!
Bangsa ku, bangsa yang besar. Bangsa yang hanya dengan teori dan data statistic lalu alamnya dirampok dan dirampas.
Bangsa ku, bangsa nya para bandit. Demi perut dan dubur rela mati untuk tuan. Bangsa yang anak manusianya demi selembar rupiah menghisap darah sesame manusia lainnya.
Bangsa ku, memang bangsa yang kaya dengan cadangan kuli dan budak terbesar. Bangsa yang pernah dijajah kemudian merdeka lalu dijajah kembali.
Ya bangsa ku adalah tanah dari muntahan sejarah dunia. Tanah yang kini para budak membabi buta, para pengemis dengan gaya parlentenya. Tanah yang hukumnya tidak lagi ditegakkan dan malah makin penuh dengan libido dan birahi materialistic.
Bangsa ku, bangsa dimana maling di lindungi, bandit dipelihara dan manusia luhur di hina dan di di caci maki.
Ya bangsa ku, tanah itu telah menjadi medan bagi para malaikat dan iblis berperang.”

*V*
…………………………………………………………………………………………………., continue

Komentar

Postingan Populer