Antara Pemimpin dan Pencitraan

Hikmatullah*

Salah satu strategi politik di era milenial ini adalah pencitraan. Bagi para politikus, pencitraan menjadi hal yang sangat penting, sebab pencitraan merupakan bagian dari proses pembentukan image untuk mendapat dukungan dari basis massa yang ada. 
Hal ini dapat di buktikan dengan bagaimana konsep blusukan Joko Widodo (Jokowi) yang kemudian mampu menjadikannya sebagai orang nomor satu di negeri ini. Bahkan tidak sedikit pula para calon pemimpin baik di tingkat provinsi maupun kota/kabupaten mengikuti jejak konsep yang di bangun ini. 
Sebagian besar masyarakat kita menganggap bahwa apa yang menjadi konsep dari Presiden ini merupakan bagian dari 'pencitraan'. Saya ataupun kita semua juga harusnya mengakui bahwa itu adalah sebuah pencitraan. Tidak ada masalah dengan hal itu bahkan sebenarnya sah-sah saja, karena dengan pencitraan, baik Presiden, Politisi, Pemimpin atau bahkan kita sendiripun tengah mencoba untuk mengeksplorasi genuine personality kita masing-masing. 
Namun ada beberapa hal yang seharusnya di jaga oleh pemimpin/calon pemimpin khususnya dari proses pencitraan ini adalah karakter atau kepribadian. 
Saya mengambil contoh dari Chrisye, seorang musisi legendaris Indonesia. Chrisye yang dalam kepribadiannya terlihat kalem saat bernyanyi namun berani juga mengeksplore genuine nya dengan berkolaborasi bersama para koreografi, memang terlihat kaku, namin itu semua tidak menghilangkan karakter seorang Chrisye dan malah justru membuat penggemarnya semakin simpatik. 
Mungkin tidak pantas memang membandingkan musisi dengan pemimpin, apalagi dengan gayanya bernyanyi dan berpidato.
Namun lagi-lagi maksud saya adalah nilai karakteristik dan kepribadian harus tetap ada sebagaimana Chrisye yang tetap tergambar jelas dalam setiap syair dari lagunya. Begitu pula seharusnya seorang pemimpin, nilai karakteristik dan kepribadian harusnya sudah tertanam dalam diri pemimpin maupun calon-calon pemimpin dalam setiap tindak tanduk kehidupan maupun kinerjanya.
Bagaimana menumbuhkan nilai karakter atau kepribadian tersebut?
Pertanyaan seperti ini harusnya di pertanyakan kepada setiap lembaga elit politik maupun partai politik yang ada. Seharusnya elit-elit politik mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang memiliki karakter dan kepribadian sebagai seorang pemimpin, bukan malah memprioritaskan kedudukan atau jabatan di kursi kekuasaan. 
Disamping itu partai politik juga harus menanamkan ideologi dan visi kebangsaan yang kuat, sehingga kader-kader calon pemimpin memiliki wawasan kebangsaan yang luas dan tidak menghamba kepada kepentingan partai.
Maka terlepas dari strategi politik yang dibangun (pencitraan, blusukan atau apapun itu), karakteristik dan kepribadian harus tetap melekat dalam jiwa setiap pemimpin.



*Manusia Tanpa Bakat Istimewa

Komentar

Postingan Populer