Selamat Hari Pahlawan
SELAMAT HARI PAHLAWAN :
MEMAKNAI KEMBALI SIMBOLITAS KE-PAHLAWAN-AN
Oleh : Hikmatullah
Dalam catatan sejarah, Pertempuran yang terjadi pada bulan November 1945 di kota Surbaya merupakan bentuk perjuangan rakyat Indonesia dalam mempertahankan status sebagai bangsa yang merdeka. Pertempuran tersebut dianggap sebagai puncak revolusi perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan setelah kurang lebih 3 setengah abad lamanya menjadi budak dari kaum koloni. Dalam pertempuran tersebut semangat pantang menyerah rakyat Indonesia ditunjukan melalui aksi heroik para pahlawan yang tak kenal lelah dan rela mengorbankan harta dan nyawa demi kepentingan bangsa yang baru beberapa bulan dinyatakan sebagai bangsa yang merdeka. Perjuangan rakyat Indonesia yang bermodalkan bambu runcing tersebutlah yang kemudian hari ini kita kenal dan kita peringati sebagai hari pahlawan.
Pahlawan dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani;. Jika dilihat dari pengertian tersebut maka wajar predikat pahlawan kita sematkan kepada para pejuang yang telah bersusah payah mendirikan dan mempertahankan bangsa Indonesia dari segala macam gangguan dan intervensi negara asing.
Namun bagaimana dengan sekarang? Apa yang harus kita lakukan untuk mencapai predikat (pahlawan) tersebut? Atau apakah kita masih menghargai perjuangan para pahlawan-pahlawan dahulu?
Kini setelah 72 tahun merdeka, setelah ribuan pahlawan menyuguhkan darah dan keringat tertumpah demi tanah air tercinta, setelah ribuan pahlawan dengan desingan peluru dan hulu pedang mengkilap menyisihkan sebagian dari dirinya untuk berjuang membela dan mempertahankan harkat dan martabat bangsa, banyak generasi yang lupa dan sok jadi pahlawan. Membusungkan dada saling menghujat dan mencaci maki hanya karena ingin disebut pahlawan. Begitu banyak generasi yang dikebiri oleh simbolitas Kepahlawanan tanpa juang. Jika saja generasi hari ini tahu, bagaimana perihnya setetes darah akibat terserempet Peluru, akibat tertikam belati, akibat tertusuk badik, akibat tersayat pedang, mungkin tidak ada satupun 'Generasi sampah' hari ini yang mau menjadi sosok pahlawan itu.
Manusia memang mempunyai potensi sebagai ksatria dalam dirinya dan memiliki simbol kepahlawanan untuk kehidupannya. Orang tua yang melahirkan dan membesarkan anaknya bisa dikatakan sebagai pahlawan, guru dan dosen yang mengajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan bisa dikatakan sebagai pahlawan, mereka yang berprestasi baik di bidang akademik maupun non-akademik juga bisa dikatakan sebagai pahlawan. Setidaknya mereka menjadi pahlawan untuk dirinya sendiri.
Namun pahlawan adalah orang yang berjuang mengharumkan nama negara, serta rela mati demi membela bangsa dan negara. Hal ini sesuai dengan yang disebutkan dalam peraturan presiden republik Indonesia nomor 33 tahun 1964 tentang penetapan, penghargaan dan pembinaan terhadap pahlawan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pahlawan identik dengan perjuangan atau berjuang. Berjuang disinilah yang kemudian menjadikan seseorang tersebut mendapat predikat sebagai pahlawan, entah itu predikat diberikan oleh dirinya sendiri maupun disematkan oleh orang lain sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangan yang dilaluinya.
Untuk itu, melalui momentum hari pahlawan ini saya ingin mengajak kepada para generasi penerus bangsa khusunya teman-teman mahasiswa yang katanya sebagai kaum intelektual muda untuk kembali memaknai, menghayati serta menghargai sikap kepahlawanan para pahlawan bangsa yang telah mendahului kita dengan cara terus berjuang dalam membela kepentingan rakyat, berjuang untuk mengaktualisasikan segala potensi yang ada dalam diri, tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri, tapi juga untuk kepentingan masyarakat dan ummat. Berjuang untuk Menjadikan ilmu pengetahuan yang kita miliki dapat berguna bagi orang lain dengan menunjukan bentuk kerja nyata yang menghasilkan, bukan sekedar jualan liur atau yang kerap disebut dengan ‘onani intelektual’. Serta mari bersama-sama kita berpikir secara kritis dan solutif terhadap berbagai macam persoalan yang terjadi disekitar kita, baik itu persoalan sosial-budaya, ekonomi, politik, lebih-lebih persoalan yang menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara serta kebijakan-kebijakan yang terjadi di dalamnya.
Mungkin dengan bentuk perjuangan seperti itu predikat kepahlawanan dapat disematkan kepada kita generasi penerus sekarang, sebab pahlawan sejati adalah mereka yang bertahan untuk tetap merdeka, mereka yang tulus dan ikhlas berjuang membela dan mempertahankan tanah tempat darah dan daging menjadi seutuh tubuh. Tulus dan ikhlas dalam Berjuang itulah yang kemudian menghalangi Pahit untuk tetap manis, yang menghalau Sakit untuk tetap sehat dan yang membatasi Perih dan Nyeri untuk tetap Tak Terasa.
Semoga Allah SWT., selalu meridhoi setiap perjuangan yang kita lakukan, agar perjuangan para pahlawan terdahulu tidak menjadi sebuah hal yang sia-sia. Dan semoga arwah para pahlawan yang telah mendahului kita mendapatkan tempat terbaik disisi-Nya. Amiin!
“Jika dulu Bung Tomo meneriakkan Takbir, Allahu Akbar!! untuk membakar semangat juang dalam melawan penjajah, maka sekarang dengan kalimat yang sama, Takbir Allahu Akbar!! Kita luruskan kiblat Bangsa.”
Selamat Hari Pahlawan
Salam Perjuangan!!

Komentar
Posting Komentar