REFLEKSI SUMPAH PEMUDA 1928



REFLEKSI SUMPAH PEMUDA 1928
Oleh : Hikmatullah

Sumpah Pemuda dapat dipandang sebagai “Proklamasi” bangsa Indonesia dan perubahan sosial politik yang terjadi dalam dunia ide dan pemikiran. Pada masa Sumpah Pemuda, sentimen kesukuan dan kedaerahan dikalahkan oleh rasa kebangsaan, mereka yang membawa nama kedaerahan dan agama sepakat berpikir dan bertindak sebagai suatu bangsa. Artinya, demi kepentingan bangsa mereka rela menyampingkan kepentingan organisasi kedaerahan, kesukuan dan keagamaan. Secara terbuka jiwa atau roh bangsa Indonesia ditiupkan dalam bentuk Sumpah Pemuda sebagai bentuk perjuangan menentang fasis Jepang dan kolonialis Belanda yang menguasai Indonesia pada saat itu. Pertanyaan adalah apakah sekarang sumpah tersebut masih layak untuk disampaikan?? Apakah keresahan yang terjadi 89 tahun yang lalu itu dapat kita rasakan sampai pada saat ini?? Atau apakah kita pada hari ini menghargai perjuangan pemuda 89 tahun yang lalu tersebut?? (silakhkan di jawab dengan hati masing-masing).
Sumpah pemuda seharusnya menjadi penyemangat bagi para intelektual muda (mahasiswa) dalam memperjuangkan cita-cita bangsa Indonesia sesuai dengan amanat yang tertuang dalam konstitusi UUD 1945. Karena pada hakekatnya mahasiswa adalah kelompok masyarakat yang memiliki pola pikir intelektual serta kepribadian yang baik bagi masyarakat lain.
Dalam kenyataannya, konstitusi tersebut hanya menjadi kamus usang dalam perspektif dinamika mahasiswa pada hari ini. Dinamika mahasiswa pada hari ini telah mengalami kecacatan yang cukup signifikan. Mahasiswa sudah tidak lagi mengenal tugas dan fungsinya sebagai intelektual organic yang akan mengisi pos-pos tertentu dalam menyelesaikan berbagai macam persoalan. Hal ini terlihat dari banyaknya mahasiswa yang kurang aktif dalam berbagai hal, baik yang menyangkut akademik maupun non-akademik. Mahasiswa sepertinya lupa dengan landasannya sebagai penuntut ilmu dan penyebar keilmuan, peneliti yang berinovatif serta mengabdikan diri kepada lingkungan sosial kemasyarakatan. Mahasiswa sudah tidak lagi merakyat dan menyatu dengan rakyat. Justru mahasiswa membuat jurang pemisah yang semakin lebar dengan rakyat, serta menganggap dirinya sebagai golongan elit sosial dengan segudang citranya yang berjuluk intelektual muda. Dinamika seperti inilah yang kemudian membuat mahasiswa terjebak dalam zona nyaman serta terpenjara dalam realitas sosial yang terjadi disekitarnya, sehingga akhirnya mahasiswa lupa dengan tugas dan fungsinya sebagai penggerak perubahan yang cerdas dan visioner.
Selain sebagai penyemangat dalam memperjuangkan cita-cita bangsa, para intelektual muda (mahasiswa) juga harus menjadikan sumpah pemuda sebagai landasan berjuang serta acuan dalam mengorganisir gerakan perubahan menuju tatanan sosial yang adil dan beradab. Gerakan-gerakan perubahan tersebut dapat diwujudkan melalui pola pikir dan paradigma yang revolusioner. Melibatkan diri dalam setiap kegiatan-kegiatan sosial, serta mengembangkan diri dalam hal intelektual melalui budaya membaca dan diskusi. Niat yang tulus serta dedikasi yang tinggi dalam membangun budaya membaca, budaya menulis serta budaya diskusi merupakan langkah awal bagi mahasiswa untuk perubahan. Sebab dengan adanya budaya-budaya seperti itu, diharapkan mampu melahirkan mahasiswa-mahasiswa kritis yang mampu membaca keadaan dengan pisau analisis yang dimilikinya, serta mampu memberikan solusi cerdas terhadap setiap masalah yang tengah dihadapi oleh mahasiswa itu sendiri khususnya, masyarakat, bangsa dan negara umumnya.
Soekarno pernah berkata: “Berikan aku 1000 orang tua niscaya akanku cabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia 10 pemuda disini maksudnya adalah sekelompok pemuda yang berjuang untuk perubahan dan tentu saja pemuda disini adalah salah satu dari elemen rakyat yang bernama mahasiswa.
Untuk itu, sebagai penghargaan atas apa yang diperjuangkan oleh pemuda 89 tahun yang lalu, saya ingin mengajak kepada kawan-kawan mahasiswa untuk memerangi segala macam penyakit intelektual (apatis-hedonis-oportunis-pragmatis) yang saat ini tengah menina bobokan eksistensi mahasiswa dalam kehidupan sosial, serta mari bersama-sama kita berjuang untuk membangun kesadaran massa agar tercipta nilai-nilai persatuan sebagai identitas budaya bangsa yang ramah, peduli satu sama lain yang sesuai dengan falsafah Pancasila dan UUD 1945 serta berpedoman pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Hidup Mahasiswa!!
Hidup Pemuda Indonesia!!
Salam Perjuangan!!

Komentar

Postingan Populer