Pemimpin yang busuk, Pemilih juga busuk
Tidak ada yang bisa kita harapkan dari mereka yang sedang berlomba untuk mendapatkan kekuasaan. Dan adalah jalan sesat jika kita masih percaya terhadap janji untuk mensejahterakan rakyat, karena kesejahteraan rakyat hanya bisa direbut melalui perjuangan pembebesan umat manusia dari belenggu kebodohan dan kemunafikan yang terjadi pada saat ini.
Praktik kepemimpinan di era milenium ketiga ini sangat jauh dari kata ideal. Kecerdasan yang dimiliki justru menjadi gerbang kemaksiatan untuk memuaskan libido politik dan individunya sendiri. Sabda-sabda Illahi dan sunnah Nabi hanya menjadi alat legitimasi semu dalam persaingan politik yang kompetitif. Bersembunyi dibalik kedigdayaan sabda Illahi adalah perilaku pengecut para pemimpin saat ini. Nalar kepemimpinan yang rahmatan lil’alamin, tablig, shiddiq, amanah, fatonah menurut Islam hanya menjadi risalah kuno yang terkubur bersama jasad tanpa kepala pemimpin-pemimpin saat ini.
Bukankah yang begitu itu adalah hal yang nyata bagi kita?
Dari pemimpin yang satu sampai ke pemimpin yang sekarang: “pencabutan subsidi rakyat, represifitas, pengekangan hingga pemberangusan berserikat.” itulah cermin negara dizaman borjuasi sekarang ini. Sekali lagi itu nyata, nyata dan nyata.
Agenda nawacita yang dijanjikan presiden nyatanya hanya menjadikan rakyat sebagai tumbal politik, efek dominonya adalah terjadi degradasi kredibilitas di rezim komparador saat ini, para pejabat bukan lagi sebagai pelindung rakyat, tapi sudah menjelma menjadi mesin penindas, pemerkosa dan pembunuh hak-hak rakyat.
Dan itulah alasannya kenapa kita tidak bisa lagi percaya menitipkan negara pada partai politik dan elit politik busuk yang ada sekarang ini.
Bukan karena pesimis dengan jargon anti demokrasi, bukan pula membela syi'ah dalam misi mempertahankan sistem ekonomi independen.
Percaturan politik dunia telah mengancam semua dimensi kehidupan, haruskah kita berdiam dan memohon rahmat dari-Nya?? Kalau memang seperti itu adanya, Agama telah terbukti menjadi candu bagi kehidupan manusia. Kelemahan, ketakutan dan kekuatan bersama cinta akan mati dalam seruan materialis liberalisme.
Mau tidak mau kita harus bergerak!!
Perubahan tatanan sosial dimanapun berada bukanlah sesuatu yang diturunkan Tuhan dari langit ataupun lumrah terlahir dari dalam perut bumi. Tapi semuanya perlu diperjuangkan. Melalui pola pikir, paradigma dan Aqidah yang kita miliki diharapkan kita mampu menciptakan tatananan sosial baru yg adil dan beradab dalam setiap dimensi kehidupan yg kita jalani.
Salam "pembaharuan" untuk sebuah "perubahan".
“Jika dulu Bung Tomo meneriakkan Takbir, Allahu Akbar!! untuk membakar semangat juang dalam melawan penjajah, maka sekarang dengan kalimat yang sama, Takbir Allahu Akbar!! Kita luruskan kiblat Bangsa.”
HT
Komentar
Posting Komentar