peradaban islam masa nabi muhammad



BAB I
PENDAHULUAN

 1.1  LATAR BELAKANG

Nabi Muhammad saw. merupakan suri tauladan atau uswah hasanah bagi umat islam. Sebagai umat islam kita ditungtut untuk mengetahui sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw. membawa umat manusia dari zaman jahiliah ke zaman kepintaran, dari zaman kegelapan ke zaman terang benderang, dan dari biadab menjadi beradab. Dan sebagai umatnya kita pun harus mengetahui Riwayat Hidup Nabi Muhammad SAW selama hidupnya seperti apa.
Perjuangan Nabi Muhammad itu tidak berjalan dengan mulus tapi banyak rintangan dan tantangan yang terus menghampiri, contohnya hinaan, cemoohan, makian, dan siksaan dari orang-orang kafir yang tidak menerima ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. walaupun demikian Nabi Muhammad saw. tetap tegar dan tidak menyerah sekalipun tantanganya itu sangat berat untuk dihadapi. Jadi, Nabi Muhammad saw. rela mengorbankan harta, jiwa, dan  raganya dalam menegakan ajaran islam.

  1.2  RUMUSAN MASALAH
·         Bagaimana Riwayat Hidup Nabi Muhammad SAW ?
·         Bagaimana Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW dalam ?
1.3  TUJUAN
Penyusunan makalah ini bertujuan sebagai berikut :
·         Supaya kita tahu sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw. dalam menegakan ajaran islam dan mengetahui Riwayat Hidup Nabi Rasul.
·         Supaya sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw itu dijadikan ibroh atau pelajaran oleh kita.
·         Memenuhi Tugas Perkuliahan Sejarah Peradaban Islam
        



BAB II
PEMBAHASAN

2.1  PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA NABI MUHAMMAD

Kondisi bangsa Arab sebelum kedatangan islam, terutama di sekitar Mekkah masih diwarnai dengan penyembahan berhala sebagai Tuhan. Yang dikenal dengan peganisme. Selain penyembahan berhala, di kalangan Arba ada pula yang menyembah agama Masehi (Nasrani), Agama ini dipeluk oleh penduduk Yaman, Najran, dan Syam. Di samping itu juga agama Yahudi yang dipeluk oleh penduduk Yahudi imigran di Yaman dan Madinah, serta agama Majusi yaitu agama orang-orang Persia.
Demikian keadaan bangsa Arab menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa Islam di tengah-tengah bangsa Arab. Masa itu bisa disebut dengan zaman Jahiliyah, masa kegelapan dan kebodohan dalam hal agama, bukan dalam hal lain seperti ekonomi dan sastra karena dalam dua hal terakhir ini bangsa Arab mengalami perkembangan yang sangat pesat. Mekkah bukan hanya merupakan pusat perdagangan dunia yang penting saat itu, yang menghubungkan antara utara, Syam, dan selatan, Yaman, antara timur, Persia, dan barat Abesinia dan Mesir.


2.2  Riwayat Hidup Nabi Muhammad
Nabi Muhammad adalah anggota Bani Hasyim, suatu kabilah yang kurang berkuasa dalam suku quraisy[1]. Kabilah ini memegang jabatan siqayah. Beliau lahir pada tanggal 12 Rabiul Awwal atau 20 April 571 M [2].ketika itu Raja Yaman Abrahah dengan gajahnya menyerbu Mekkah untuk menghancurkan  ka’bah sehingga tahun iotu dinamakan tahun gajah.
Beliau telah menjadi yatim piatu ketika berumur delapan tahun. Pada umur 12 tahun nabi telah mengenal perdagangan, sebab pada saat itu beliau telah diajak oleh pamannya, Abu Thalib ke negri Syam. Pada usia yang ke dua puluh lima, Muhammad berangkat ke Syiria membawa barang dagangan saudagar wanita kaya raya yang telah lama menjanda, Khadijah yang kemudian menjadi istrinya.
Fase kenabian Nabi Muhammad dimulai ketika beliau menyepi di gua Hira, sebagai imbas keprihatinan beliau melihat keadaan bangsa arab yang menyembah berhala. Di tempat inilah beliau menerima wahyu pertamaberupa suratAl-‘Alaq:1-5. Dengan wahyu yang pertama maka beliau diangkat menjadi Nabi, utusan Allah SWT. Pada saat itu nabi Muhammad belum diperintahkan untuk menyeru kepada umatnya, namun setelah turun wahyu kedua, yaitu Surat Al-Muddatstsir:1-7, nabi Muhammad SAW. Diangkat menjadi Rasul yang harus berdakwah.dalam hal ini dakwah nabi dibagi menjadi dua periode[3] yaitu:
a.         Periode Mekkah
b.        Periode Madinah


2.3  Periode Mekkah
Pada periode ini, tiga tahun pertama, dakwah islam dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Nabi Muhammad mulai melaksanakan dakwah Islam di lingkungan keluarga, mula-mula istri beliau sendiri yaitu Khadijah, kemudian sepupu beliau Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar sahabat seliau, lalu Zaid, bekas budak beliau.di samping itu, juga banyak yang masuk islam dengan perantar Abu Bakar yang dikenal dengan julukan ASSABIQUNAL AWWALUN [4](orsng-orsng ysng lebih dahulu masuk islam), mereka adalah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwan, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin ‘Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Abu ‘ubaidah bin Jarrah, dan Al Arqam bin Abil Arqam, yang rumahnya dijadikan markas untuk dakwah (rumah Arqam). Kemudian setelah turun surat Al-Hijr : 94, Nabi Muhammad saw. Memulai dakwah secara terang-terangan.
Namun, dakwah yang dilakukan beliau tidak mudah karena mendapat tantangn dari kaum kafir           Quraisy. Hal tersebut timbul karena ada bebarapa factor, yaitu sebagai beerikut:
1.    Mereka ( kaum Quraisy) tidak dapat membedakan antara kenabian dengan kekuasaan. Mereka mengira bahwa tunduk kepada Nabi Muhammad berarti tunduk kepada kepemimpinan bani Abdhul Muthalib.
1.        Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya.
2.        Para pemimpin quraisy tidak mau percaya ataupun mengakui serta tidak menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di Akhirat.
3.        Taklid kepada neneng moyang adalah kebiasaan yang berurat akar pada bangsa Arab, sehingga sangat berat bagi mereka untuk meninggalkan agama nenek moyang dan mengikuti ajaran Islam.
4.        Pemahat dan penjual patung memandang islam sebgai penghalang rezeki.

Banyak cara dan upaya yang ditempuh para pimpinan Quraisy untuk mencegah dakwah nabi Muhammad Saw. Namun selalu gagal, baik secara diplomatik dan bujuk rayu maupun dengan tindakan-tindakan kekerasan fisik. Puncak dari segala cara itu adalahdengan diberlakukannya pemboikotan terhadap bani Hasyim yang merupakan tempat Nabi Muhammad berlindung.pemboikotan ini berlangsung selama tiga tahun, dan merupakan tindakan yang paling melemahkan pada saat itu. Pemboikotan ini baru berhenti setelah kaum Quraisy menyadari bahwa apa yang telah dilakukanya terhadap kaum muslimin sudah keterlaluan. Setelah boikot dihentikan, bani Hasyim seakan dapat bernafas kembali dan pulang ke rumah masing-masing.
Namun tidak lama kemudian paman  nabi yang merupakan pelindung utamanya, Abu Thalib meninggal dunia dalam usia87 tahun. Tiga hari setelah itu istri tercinta beliau, Khadijah meningal dunia pula. Peristiwa terjadi pada tahun kesepuluh kenabian. Tahun ini merupakan tahun kesedihan bagi nabi Muhammad saw. Sepeninggal dua pendukung itu, kafir Quraisy tidak segan-segan lagi melampiaskan nafsu amarahnya terhadap nabi. Karena di mekkah dakwah nabi Muhammad saw. Mendapat rintangan dan tekanan yang begitu besar, pada akhirnya nabi memutuskan untuk berdakwah diluar mekah. Namun  di Thaif beliau dicaci dan dilempari batu sampai beliau terluka. Hal. Ini semua hamper membuat nabi putus asa, sehingga untuk menguatkan beliau,Allah SWT mengisra’kan dan memikrajkan beliau pada tahun kesepuluh itu.
Setelah peristiwa isra’ dan mikraj, suatu perkembangan besar bagi kemajuan dakwah islam muncul. Perkembangan datang dari sejumlah penduduk yatsrib yang melakukan haji ke Makkah. Mereka yang terdiri dari dua suku yang yang saling bermusuhan yaitu ‘Aus dan Khazraj[5]masuk islam dalam tiga gelombang.pertama, pada tahun kesepuluh kenabian, beberapa orang kkhazraj berkata kepada nabi: “Bangsa kami telah lam terlibat dalam permusuhan, yaitu antara suku Khazraj dan ‘Aus. Mereka benar-benar merindukan perdamaian.kiranya Tuhan mempersatukan mereka kembali dengan perantara engkau dan ajaran-ajaran yang engkau bawa. Oleh karena itu kami akan berdakwah agar mereka mengetahui agama yang kami terima dari engkau ini.” Mereka giat mendakwahkan Islam di Yatsrib. Kedua pada tahun keduabelas kenabian delegasi yasrib terdiri dari sepuluh orang suku Khazraj dan dua orang suku ‘Aus serta seorang wanita menemui nabi disuatu tempat yang bernama Aqabah. Dihadapan nabi mereka menyatakan ikrar kesetiaan. Rombongan ini kemudian kembali ke Yatsrib sebagai juru dakwah dengan ditemani oleh mus’ab bin Umair yang sengaja diutus oleh Nabi atas permintaan mereka. Ikrar ini disebut dengan perjanjian ‘Aqabah Pertama’. Pada musim haji berikutnya jamaah haji yang dating dari Yatsrib berjumlah 73 orang. Atas nama penduduk Yatsrib, mereka meminta pada nabi agar berkenan pindah ke Yatsrib. Mereka berjanji akan membela nabi dari segala ancaman. Nabi pun menyetujui usulan mereka. Perjanjian ini disebut perjanjian ‘Aqabah Kedua’.
Setelah kaum musrikin mengetahui adanya perjanjian antara nabi dan orang-orang Yatsrib itu, mereka kian gila melancarkan intimidasi terhadap kaum muslimin. Hal ini membuat nabi segera memerintahkan para sahabatnya untuk hijrah ke Yatsrib. Dalam waktu dua bulan, hamper semua kaum muslimin kurang lebih 150 orang, telah meninggalkan kota Makkah. Hanya Ali dan Abu Bakar yang tetap tinggal di Makka bersama nabi. Keduanya membela dan menemani nabi sampai mereka pun akhirnya hijrah ke Yatsrib karena kafir Quraisy sudah merencanakan akan membunuh nya.
Dalam perjalanan ke Yatsrib Nabi di temanai oleh Abu Bakar. Ketika tiba di Quba, sebuah desa yang jaraknya sekitar lima kilometer dari Yatsrib nabi istirahat beberapa hari lamanya. Beliau menginap di rumah Kulsum bin Hindun. Di halaman rumah ini nabi membangun sebuah masjid. Inilah masjid pertama yan gdibangun Nabi sebagai pusat peribadatan. Tak lam kemudian Ali mengabungkan diri dengan nabi, setelah menyelesaikan segala urusan di Makkah. Sementar itu, penduduk Yatsrib menunggu-nunggu kedatangannya. Vwaktu yang mereka tunggu-tunggu itu tiba. Nabi memasuki kota Yatsrib dan penduduk kota itu mengelu-elu kan kedatangan beliau dengan penuh kegembiraan. Sejak itu, sebagai penghormatan terhadap nabi, nama kota Yasrib diubah menjadi madinatun nabi (kota nabi ) atau sering pula disebut dengan madinatul munawarah (kota yang bercahaya). Karena dari sinilah sinar Islam memancar ke seluruh dunia. Dalam sehari-hari kota ini cukup disebut madinah saja.

2.4  Periode Madinah
Setelah tiba dan diterima penduduk Yatsrib (madinah), nabi resmi menjadi pemimpin penduduk kota itu. Babak baru dalam sejarah islam pun dimulai. Berbeda dengan periode Makkah, pada periode Madinah, Islam merupakan kekuatan politik. Ajaran Islam yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat banyak turun di Madinah..
Nabi Muhammad mempunyai kedudukan bukan saja bukan sebagai kepala agama, tetapi juga sebagai kepala negar. Dengan kata lain, dalam diri nabi terkumpul dua kekuasaan, kekuasaan spiritual dan kekuasaan duniawi.
       Dalam periode ini, pengembangan islam lebih di tekankan pada dasar-dasar pendidikan masyarakat islam dan pendidikan social kemasyarakatan. Oleh karena itu, Nabi kemudian meletakkan dasar-dasar masyarakat islam di Madinah sebagai berikut:
       Pertama mendirikan masjid
Tujuan Rasulullah mendirikan masjid adalah untuk mempersatukan umat islam dalam satu majlis, sehinggadi majlis ini umat islam bias bersama-sama melaksanakan shalat berjama’ah secara teratur, mengadili perkara-perkara dan bermusyawarah.
       Kedua,mempersatukan dan mempersaudarakan antara kaum anshar dan kaum muhajirn. Rasulluah telah menciptakan suatu pertalian yang berdasarkan agama pengganti persaudaraan yang berdasarkan kesukuan seperti sebelumnya.
       Ketiga, melakuakan perjanjian saling membantu antara sesame kaum muslimin dan bukan muslimin.dengan adanya perjanjian itu nabi Muhammad hendak menciptakan toleransi antargolongan yang ada di Madinah.
       Menurut Ibnu Hisyam, isi perjanjian tersebut antara lain sebagai berikut:
a.         Pengakuan atas hak pribadi keagamaan dan politik
b.        Kebebasan beragama terjamin untuk semua umat.
c.         Adalah kewajiban penduduk kota madinah, baik muslim maupun non muslim untuk menjaga dan mempertahan kan kota mereka dari serangn musuh.
d.        Rasulullah adalah pemimpin umat bagi penduduk kota madinah. Kepada Beliaulah dibawa sgala perkara dan perselisihan yang besar untuk di selesaikan.[6]

Keempat meletakkan dasar-dasaar politik, ekonomi, dan social untuk masyarakat baru.
Ketika masyarakat islam terbentuk maka diperlukan dasar-dasar yang kuat bagi masyarakat yang baru terbentuk tersebut. Oleh karena itu, ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan dalam periode ini terutama ditunjukan kepada pembinaan hukum. Ayat-ayat ini kemudian diberi penjelasan oleh Rasulullah, baik dengan lisan maupun dengan perbuatan beliau sehingga terdapat dua sumber hukum dalam islam, yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Dari kedua sumber hukum Islam tersebut di dapat suatu sistem untuk bidang politik, yaitu sistem musyawarah. Dan bidang ekonomi dititikberatkan pada jaminan keadilan sosial, serta dalam bidang kemasyarakatan, diletakkan pula dasar-dasar persamaan derajat antara masyarakat untuk manusia, dengan penekanan bahwa yang menentukan derajat manusia adalah ketakwaan.

2.5  PERTENTANGAN ANTARA KAUM YAHUDI DAN MUSLIMIN
       Sikap ingkar janji yang di lakukan kaum Yahudi mulai terlihat,ketika terjadinya perang pertama dalam sejarah Islam yang dikenal dengan perang badar, yakni perang antara kaum muslimin dengan musyrik Quraisy pada tanggal 8 Ramadhan tahun kedua hijriyah, di daerah Badar, kurang lebih 120 Km dari Madinah. Dalam peperangan ini kaum muslimin menang atas kaum musyriki. Namun, orang-orang Mekkah memerangi nabi. Bukti penyelewengan kaum Yahudi yang lain adalah pada waktu terjadi perang Uhud, dimana kaum Yahudi berjumlah 300 0rang dengan pimpinan Abdullah bin Ubay,seorang munafik yang bersedia mau membantu kaum muslimin, namun tiba-tiba membelot dan kembali ke Madinah, yang mengakibatkan kaum muslimin mengalami kekalahan. Sehingga nabi pun dengan tegas mengusir Bani Nadir, satu dari dua suku Yahudi di Madinah yang berkomlot dengan Abdullah bin Ubay keluar kota. Sebagian besar mereka mengusir ke Khibar. Sedangkan suku Yahudi lainnya, yaitu Bani Quraizah, masih tetap berada di Madinah.
       Penghianatan kaum Yahudi yang lain adalah dengan bergabungnya kaum Yahudi dengan orang-orang kafir untuk menyerang Madinah, dengan cara mengepung Madinah (perang Azhab atau perang Khandaq). Dalam suasana kritis ini, orang-orang Yahudi Bani Quraizah di bawah pimpinan ka’bah bin Asad berkhianat. Namun usaha pengepungan tidak berhasil, yang pada ahkirnya di hentikan sementara itu, penghianatan-penghianatan Yahudi Bani Quraizah dijatuhi hukum mati.

2.6  PERJANJIAN HUBAIBIYAH
       Pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah diisyaratkan, Nabi Muhammad SAW dengan sekitar seribu kaum muslimin berangkat ke Mekkah bukan untuk berperang, tetapi untuk melaksanakan ibadah umrah, namun penduduk Mekkah tidak mengizinkan mereka masuk kota. Akhirnya, diadakan perjanjian Hubaibiyah yang isinya antara lain sebagai berikut:
1.      Kaum muslimin belum boleh mengunjungi Ka’bah tahun itu, tetapi ditangguhkan sampai tahun depan.
2.      Lama kunjungan hanya dibatasi sampai tiga hari.
3.      Kaum muslimin wajib mengembalikan orang-orang Mekkah yang melarikan diri ke Madinah, namun sebaliknya, pihak Quraisy tidak harus menolak orang-orang Madinah yang kembali ke Mekkah.
4.      Selama sepuluh tahun diberlakukan gencatan senjata antara masyarakat Madinah dan Mekkah.
5.      Tiap kabila yang ingin masuk kedalam persekutuan kaum Quraisy atau kaum muslimin, bebas melakukannya tanpa mendapat rintangan.[7]
Dengan perjanjian ini, harapan untuk mengambil ahli ka’bah dan menguasai Mekkah semakin terbuka. Ada dua faktor pokok yang mendorong kebijaksanaan ini: pertama, Mekah adalah pusat keagamaan bangsa Arab melalui konsolidasi bangsa Arab dalam islam, Islam bisa tersebar keluar. Kedua, apabila suku Quraisy dapat diislamkan, islam akan memperoleh dukungan yang kuat karena orang-orang Quraisy mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar.

2.7     FATHUL MEKAH
Setelah dua tahun perjanjian Hubaibiyah berlangsung, dakwa islam sudah menjangkau seluruh Jazirah Arab, hingga hampir ke pelosokan Jazirah Arab. Hal tersebut membuat orang-orang kafir Mekah khwatir dan merasa terpojok, oleh karena itu, orang-orang kafir Quraisy secara sepihak melangar perjanjian Hubaibiyah. Melihat hal ini, nabi kemudian bersama dengan sepuluh tentara bertolak ke Mekah untuk menhadapi kaum kafir. Dan tanpa perlawanan berarti nabi pun dapat menguasai Mekah. Meski demikian masih ada dua suku arab yang masih menentang, yaitu Bani Tsaqif dan Bani Hawazin.[8] Kedua suku ini kemudian bersatu untuk memerangi islam. Mereka ingin menuntut atas penghancuran berhala-berhala yang dihancurkan Nabi Muhammad dan umat Islam pada waktu penyerbuan Mekah. Akan tetapi, mereka dapat dengan mudah ditaklukan.
Melihat kenyataan bahwa kekuasaan Islam mulai mengancam wilayah Romawi, maka Heraclius menyusun pasukan untuk mengantisipasinya. Namun, setelah melihat kekuatan pasukan islam, akhirnya mereka mengurunkan diri.


2.8     PEPERANGAN DALAM ISLAM
Tidak ada satu ayat pun di dalam Al-Qur’an, atas satu peristiwa pun yang terjadi di awal sejarah Islam yang menunjukkan bahwa islam disebarluaskan dengan kekuatan dan kekerasan. Atau dengan kata lain, peperangan di dalam islam bukan dimaksudkan untuk menggiring dan memaksa manusia masuk islam. Sebab berbagai peperangan hanya berkisar pada usaha melakukan tindakan definisi dan pelindungan diri dari serangan dan permusuhan, juga untuk melindungi dakwa dan membangun kemerdekaan beragama.[9]
Enam bulan setelah Hijrah, Rasulullah SAW telah berhasil melakukan konsolidasi internal dan menyusun semua hal yang bersangkut paut dengannya. Setelah itu Rasulullah mempersiapkan masalah-masalah eksternal dan peperangan yang mungkin akan segera mengancam. Pada dasarnya Rasulullah tidak pernah mendahului menyerang lawan, Rasulullah hanya mempertahankan diri dari serangan musuh yang mengancam keberadaan umat islam.
Kaum muslimin diperbolehkan untuk berperang melawan kaum kafir dengan dua alasan. Alasan Normatif diperbolehkannya peperangan dalam islam menurut Hasan Ibrahim Hasan[10] adalah:
Pertama, untuk mempertahankan diri dan melindungi hak miliknya. Hal ini dijelaskan dalam (QS. Al-Hajj (22): 39-40)
Kedua, untuk menjaga keselamatan dalam menyebarkan kepercayaannya dan mempertahankannya dari mereka yang menghalang-halanginya. Oleh karena itu, barang siapa yang mau memeluk agama Islam tidak boleh merasa takut dari keributan dan tekanan.
Kedua ukuran pertahanan itulah yang dikenal dengan istilah Jihad yang berarti menggunakan kekuatan seseorang untuk memukul mundur dengan sikap apriori untuk tidak bekerja sama.
Peperangan Pada Masa Nabi Muhammad
Peperangan yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW terbagi dua bagian, yaitu:
a.       Ghazwah, yaitu peperangan yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW.
b.      Sariyah, yaitu perang yang dipimpin oleh sahabat atas penunjukkan Nabi Muhammad SAW.
2.9  SURAT-SURAT DAKWA NABI MUHAMMAD SAW
Dalam melakukan aktivitas dakwanya, Nabi Muhammad SAW, menggunakan berbagai media untuk penyebaran pesan-pesan agama islam. Salah satu media yang digunakan Nabi dalam aktivitas berdakwa adalah surat.
Media dakwa di zaman Rasulullah dan sahabat sangat terbatas, yakni berkisar pada dakwah quliyah bil lisan, dan dakwa fi’liyah bil uswah, ditambah dengan media penggunaan bi ar-rasil atau dakwa melalui surat yang juga digunakan oleh Rasul untuk mengajak para pembesar masuk agama islam.
Surat ternyata cukup efektif digunakan sebagai media dakwa. Dan ini dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Belian ternyata memandang perlu untuk berkirim surat kepada para pembesar penguasa wilayah di berbagai daerah untuk menyampaikan ajaran Allah SWT yang diturunkan kepada beliau. Betapa tidak, media dakwa tidak menutup adanya kemungkinan yang baik untuk menyampaikan dakwanya mengajak para pembesar untuk masuk agama islam.
Menurut sejarawan islam, Muhammad bin Sa’ad (w. 230 H) dalam kitabnya Ath-Thabaqat Al-Kubra bahwa surat-surat Nabi keseluruhannya berjumlah tidak kurang dari 105 buah.[11] Surat-surat tersebut jika dilihat dari segi isinya, dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu:
1.      Surat-surat yang berisi seruan untuk masuk islam. Surat-surat jenis ini ditujukan kepada orang-orang nonmuslim baik Yahudi, Nasrani, maupun Majusi; dan orang-orang musyrik baik Raja, kepala daerah, maupun perorangan.
2.      Surat-surat yang berisi aturan-aturan dalam Islam, misalnya tentang zakat, sedekah, dan sebagainya. Surat-surat ini ditujukan kepada orang-orang muslim yang masih memerlukan penjelasan-penjelasan dari Nabi Muhammad SAW.
3.      Surat-surat yang berisi beberapa hal yang wajib dikerjakan oleh orang-orang non muslim terhadap pemerintah islam, seperti masalah jizyah (iuran keamanan). Surat-surat ini ditujukan kepada orang-orang non muslim yang telah membuat perjanjian damai dengan Nabi SAW.
Melalui surat-surat dakwa, Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan kepada kita betapa Nabi juga menggunakan media modern pada saat itu untuk menyampaikan misi dakwahnya. Disamping itu, juga menunjukkan bahwa ajaran islam yang disampaikan oleh Nabi sejak awlanya sudah bersifat Universal, karena sejak awal itu pula ajaran islam bukan hanya diperuntukkan bagi masyarakat Arab saja, akan tetapi kepada masyarakat di luar Arab . jelas ajaran agama islam adalah ajaran yang Universal.

2.10   MISI DAKWA NABI MUHAMMAD SAW.
Untuk menyampaikan misi-misi dakwa, Nabi Muhammad SAW menggunakan strategi yang tepat. Nabi mengutus beberapa sahabat yang ahli di bidang strategi politik dan berdiskusi untuk menyampaikan misi dakwa tersebut. Selain dari itu juga, Strategi yang di bawakan terlebih dahulu oleh Nabi Muhammad SAW adalah, pertama strategi dakwa secara sembunyi-sembunyi, beliau melakukan hal ini karena sebab beliau baru saja menerima wahyu dari Allah SWT untuk mendakwa Ajaran agama Islam, beliau melakukan dakwa ini terlebih dahulu kepada istri, keluarga,dan orang-orang terdekatnya dengan alasan bahwa menjauhi dari berbagai bahaya karena mengingat pada waktu iyu belum ada orang yang memelukuk ajarana islama. Setelah beliau mendakwai orang-orang terdekata dalam hidupnya barulah ia melakukan dakwa beriktnya. Kedua,Nabi Muhammad melakukan Dakwa secara terang-terangan, dengan dakwa inilah beliau sudah memulai mendakwai ajaran Islam secara terbuka, akan tetapi berbagai macam rintangan saat berdakwah secara terbuka, banyak cacian, makian yang di dapat oleh Rasul, akan tetapi ada juga sebagian orang yang percaya akan ajaran yang di bawakan beliau. Semangat beliau untuk berdakwah tidak pernah berakhir sampai akhirnya Misi berdakwah beliau bisa tersebar luaskan sampai ke pelosok dunia mana pun.

2.11   MASA TERAKHIR NABI MUHAMMAD SAW.
Pada tahun 9,10 H (630-632 M )[12] banyak suku dari pelosok Arab yang mengirimkan delegasi atau utusan kepada Nabi Muhammad SAW menyatakan pengakuan akan kekuasaan islam. Oleh karena itu, tahun tersebut disebut dengan tahun perutusan.
Pada tahun 10 H (631 M) Nabi Muhammad SAW dengan rombongan yang besar melaksanakan haji, dan inilah haji yang terakhir bagi beliau yang merupakan haji perpisahan atau haji wada’. Dalam kesempatan itu turunlah ayat terakhir Al-Qur’an (QS. Al-Maidah:3).
Dalam kesempatan itu Nabi Muhammad menyampaikan Khutbahnya yang sangat bersejarah, yang isinya merupakan prinsip-prinsip yang mendasari gerakan islam, dan yang terpenting adalah bahwa umat islam harus selalu berpegang pada sumber, yaitu al-Qur’an dan Sunnah. Apabila prinsip-prinsip itu disimpulkan adalah kemanusiaan, persamaan, keadilan sosial, keadilan ekonomi kebijakan dan solidaritas.[13]
Rasulullah mulai sakit panas. Istri-istri Rasulullah meminta izin untuk merawatnya di rumah Aisyah, dan Rasulullah mengizinkannya. Untuk terakhir kalinya Rasulullah Naik mimbar. Di antara pesan yang Rasulullah katakan pada saat itu adalah, ”aku berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik terhadap orang-orang anshar.sesungguhnya orang-orang Anshar adalah orang-orang dekatku dimana aku berlindung kepada mereka. Karena mereka telah melalui apa yang menjadi beban mereka dan masih tersisah apa yang akan menjadi hak mereka. Oleh karena itu, berbuat baiklah kepada siapa saja di antara mereka yang melakukan kesalahan”.[14]
Tatkala sakitnya semakin keras, maka Rasulullah bersabda, “Surulah Abu Baqar untuk memimpin manusia melakukan sholat.”
Rasulullah meninggal pada saat Dhuha pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 H (8 Juni 632M). Pada saat wafat Rasulullah berusia 63 tahun.






BAB III
PENUTUP
3.1     KESIMPULAN
Nabi Muhammad adalah anggota Bani Hasyim Beliau lahir pada tanggal 12 Rabiul Awwal atau 20 April 571 M.ketika itu Raja Yaman Abrahah dengan gajahnya menyerbu Mekkah untuk menghancurkan  ka’bah sehingga tahun itu dinamakan tahun gajah.Nabi Muhammad SAW di angkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun bertepatan beliau berada di Gua Hira. Pada waktu itu beliau pertama kailinya menerima wahyu dari Allah SWT. Waktu demi waktu beliau menerima wahyu dari Allah secara berangsur-angsur, dan kemudian beliau menerima wahyu dari Allah SWT yakni untuk mendakwakan ajaran Agama Islam. Pada waktu itu beliau mendakwakan Islam terbagi menjadi 2 periode yakni periode Mekkah dan Madinah. Setelah beliau mendakwakan ajaran Islam pada masa akhir hidupnya beliau masih sempat menerima Wahyu dari Allah SWT yang terakhir kalinya yakni (QS Al-Maidah:3), setelah itu Rasulullah sudah mulai sakit-sakitan dan akhirnya Rasulullah meninggal pada saat Dhuha pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 H (8 Juni 632M). Pada saat wafat Rasulullah berusia 63 tahun.

3.2         SARAN
Semoga dengan adanya Makalah ini kita semua bisa meneladani kehidupan Rasulullah SAW saat beliau masih hidup, dan bisa mendadikan suri Tauladan yang baik bagi umatnya di akhir Zaman.








DAFTAR PUSTAKA

-          Al-Usairy, Ahmad. (2006). Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana.
-          Amin, Munir Samsul. (2010). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah.
-          Haekal, Husain Muhammad. (1990). Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: Litera Muhammad Antarnusa.
-          Syalbi, Ahmad. (1988). Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
-          Yatim, Badrin. (1998). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.




[1]                    Sejarah Peradaban Islam Hal.16
[2] Drs. Samsul Munir Amin sejarah peradaban islam hal.64
[3] Drs samsul munir Amin sejarah peradaban islam hal. 65
[4] Drs. Samsul munir amin sejarah peradaban islam hal.65
[5] Drs. Samsul Munir Amin, sejarah peradaban islam hal. 67
[6] Prof. Dr.A.Syalabi,ibid.,hlm.117-120
[7] Muhammad Husain Haekal, Sejarah hidup Muhammad , Jakrata: Litera Muhammad Antarnusa, 1990, hlm 402-403
[8] Dr. Badri Yatim. M. A.,ibid ., hlm32-33
[9] Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, Jakarta:Akbar,2006, hlm.107
[10] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Yogyakarta: kota kembang,1989, hlm. 28-29
[11] Ali Musthafa Yakub, Sejarah dan Metode Dakwa Nabi, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997, hlm 181
[12] Dr. Badrin Yatim. M.A., ibid., hlm.32-33
[13] Ibid.

[14] Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, hlm.136-137

Komentar

Postingan Populer